pernahkah kau merasa sangat sedih saat mendengar suara hujan, membayangkan seseorang diluar sana sedang apa dengan hujan.sedang apa ia saat hujan melukis gambar cacing di jendela itu. sedang kau berselimut, duduk meringkuk di atas meja, samping jendela dan melihat betapa hujan ini, menyamarkan kehadiran pagi.
suatu pagi ketika ia tak ada
kau melihat jendela, embun-embun beku dikaca, dan sesekali kau mengusapnya. berusaha melihat keluar, melihat hujan, melihat kalau-kalau ada hujan yang tidak menghentikan seseorang yang kau rindukan datang dan bergabung dalam selimut hangatmu. maka kau akan memejamkan mata dan menikmati betapa kupu-kupu itu begitu banyak di perutmu.
tapi tidak, atau belum atau entah.

hujan masih terlalu rapat untuk ditembus, dan jarak terlalu jauh untuk direngkuh dan kupu-kupu itu, ia tak muncul juga di perutmu. lalu kau ingat betul bagaimana saat kupu-kupu itu brkerjaran, di perutmu, kau akan menatap bulir-bulir cacing di jendela itu lagi, dan bayangan samar di jendela itu, kau melihat ada satu bulir cacing terbentuk di pipimu, dua, satu di masing-masing pipimu. lalu kau merapatkan selimut tebalmu, merapatkan kakimu dan duduk merapat ke dinding di meja itu.
suatu pagi saat ia tak ada
adalah pagi-pagi yang samar, pagi-pagi yang masih hujan, pagi-pagi yang mendung yang kau membutuhkan matahari untuk membuka jendela itu. ia, matahari itu.
(a story from Harimauharimau )


